English EN Indonesian ID

Gizi di Piring Kita: Bukan Cuma Soal Kenyang, Tapi Soal Masa Depan

SETIAP tanggal 25 Januari, kita merayakan Hari Gizi Nasional. Tahun 2026 ini, peringatan yang ke-66 terasa sangat krusial bagi Provinsi Bengkulu.  Kita semua punya mimpi besar mencetak “Generasi Emas”, generasi yang tercukupi asupan gizinya.  Namun di lapangan, kita masih sering terjebak dalam kebiasaan lama: asal anak sudah makan nasi dan kenyang, tugas kita dianggap selesai. Padahal, kenyang saja tidak cukup.

Bagi anak yang sedang berada pada masa pertumbuhan, makanan tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi agar mereka dapat bergerak, bermain, atau berlari. Lebih dari itu, makanan adalah “bahan bangunan” utama yang digunakan tubuh untuk membentuk dan mengembangkan otak mereka. Setiap kali anak mengonsumsi protein hewani seperti telur, ikan, atau daging, tubuh mereka sedang memperoleh asam amino yaitu komponen penting yang berperan dalam pembentukan jutaan sambungan saraf (sinapsis) di dalam otak.

Jika otak diibaratkan sebagai jaringan rumit berisi jutaan kabel listrik, maka gizi yang tepat berperan seperti bahan penyambung dan pelapis kabel yang memastikan setiap hubungan tersambung kuat, rapi, dan berfungsi optimal. Sambungan saraf yang kuat inilah yang memungkinkan anak berpikir cepat, belajar dengan baik, memecahkan masalah, dan mengembangkan kecerdasan di masa depan.

Sebaliknya, ketika gizi tidak terpenuhi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak dapat terhambat. Anak mungkin tetap tumbuh, tetapi tidak mencapai potensi terbaiknya karena struktur otak yang seharusnya terbentuk kuat tidak berkembang maksimal. Di sinilah pentingnya pemenuhan pangan bergizi di sekolahatau komunitas. Upaya tersebut tidak bisa dipandang sebagai sekadar “bantuan sosial”. Ini adalah investasi langsung untuk menjaga kualitas berpikir, kecerdasan, dan kapasitas belajar generasi masa depan bangsa.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), Provinsi Bengkulu menunjukkan tren yang sangat positif pada penurunan angka stunting (kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis). Pada tahun 2023, prevalensi stunting kita berada di angka 20,1% dan dalam waktu satu tahun (2024), angka tersebut berhasil ditekan menjadi 18,8%. Namun, perjuangan belum usai. Pemerintah pusat telah memetapkan target nasional untuk menurunkan angka stunting hingga ke level 14,2% pada tahun 2029. Artinya, tahun 2026 ini merupakan jembatan krusial. Kita masih memiliki selisih sekitar 4,6% untuk mencapai target tersebut. Angka ini adalah alarm bahwa masih ada sekitar 18 dari 100 anak di sekitar kita yang hak gizinya harus kita penuhi bersama agar mereka bisa tumbuh kompetitif.

Saat ini, kita senang melihat perhatian besar pada ketersediaan makanan di meja makan anak-anak sekolah. Ini adalah pengakuan bahwa urusan perut anak bukan hanya beban orang tua, tapi tanggung jawab kita bersama.
Namun, ada satu hal yang harus kita ingat: kualitas perlu mendapat perhatian lebih selain kuantitas. Keberhasilan kita tidak dihitung dari seberapa penuh piringnya, tapi seberapa bergizi isinya. Karbohidrat seperti nasi memang membuat tubuh bertenaga, tapi tanpa mikronutrien seperti zat besi, seng (Zn), dan vitamin A, anak dapat terkena “kelaparan tersembunyi” (hidden hunger). Kondisinya: perut terasa penuh, tapi sel-sel tubuh sebenarnya sedang merintih karena kekurangan zat gizi mikro yang fatal bagi kekebalan dan kecerdasan tubuh.

Strategi terbaik untuk memenuhi gizi anak sebenarnya tidak selalu harus bergantung pada produk mahal, bahan pangan pabrikan atau pangan impor. Sumber daya itu sudah ada sangat dekat dengan kita, di halaman rumah sendiri atau di pasar terdekat. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, sehingga sering disebut sebagai “gudang” pangan terbesar. Di berbagai daerah, kita memiliki ikan segar yang melimpah di wilayah pesisir, telur dari peternak lokal yang mudah dijangkau, serta aneka sayur, buah, dan umbi-umbian yang ditanam langsung di ladang masyarakat.

Memanfaatkan panganyang tersedia secara lokal ini bukan hanya pilihan praktis, tetapi juga langkah strategis. Dengan memberi anak makanan yang segar, minim pengolahan, dan sesuai dengan pola makan tradisional setempat, kebutuhan gizi mereka terpenuhi dengan lebih baik. Selain itu, ketika kita membeli dari petani, nelayan, atau peternak sekitar, kita membantu menggerakkan ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan pangan komunitas. Pada akhirnya, pangan yang tersedia secara lokal adalah sumber gizi alami yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan lingkungan kita, sekaligus cara nyata untuk membangun anak yang sehat serta masyarakat yang berdaya.
Hari Gizi Nasional ke-66 ini harus jadi pengingat bagi kita semua. Piring makan bukan sekadar urusan dapur. Di piring itulah masa depan Indonesia ditentukan.

Perlu kerja sama antara kebijakan pemerintah, edukasi dari para ahli gizi, dan kesadaran kita sebagai orang tua. Mari kita pastikan setiap suapan yang masuk ke mulut anak-anak kita adalah suapan yang membangun kecerdasan dan daya tahan tubuh mereka. Mari wujudkan bangsa yang sehat dan benar-benar berprestasi mulai dari rumah sendiri. (mra)

Oleh: Dr. Miratul Haya, SKM., M.Gizi

Editor: Zalmi Herawati

Link: https://harianbengkuluekspress.bacakoran.co/opini/read/46896/gizi-di-piring-kita-bukan-cuma-soal-kenyang-tapi-soal-masa-depan

Previous Poltekkes Kemenkes Bengkulu Berpartisipasi dalam Pameran Inovasi Kesehatan Hai Fest 2025 Kemenkes RI

Leave Your Comment

Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepda Masyarakat © 2023. Poltekkes Kemenkes Bengkulu